Kerusuhan Sepakbola di Malaysia

Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia meminta sanksi yang berat atas pembakaran satu unit ambulans dan sejumlah polisi terluka dalam kerusuhan pendukung sepakbola menyusul kekalahan Terengganu dari Lions XII (Singapura)pada pertandingan semifinal Piala FA, Sabtu lalu.

Sebagaimana dilaporkan oleh Mobile Sbobet, kerusuhan pecah menyusul pertikaian pada pertandingan kedua semifinal tersebut. Pertandingan itu berakhir 4-4 setelah pada pertandingan Lions XII di Malaysia kalah 3-2.

Terengganu mencetak gol penting pada menit ke-90, yang meloloskan ke babak final. Di final mereka berjumpa rival mereka Kelantan. Namun perayaan kemenangan mereka terhenti setelah wasit menganulir gol itu dan menyatakan terjadi offside sebelumnya.

Paulo Rangel, yang mencetak gol kedua, kemudian dikenai kartu merah karena menendang bola ke seorang petugas pertandingan akibat frustrasi. Rekannya Gustavo Lopez juga dikenai kartu merah karena mendorong wasit, sementara para pendukungnya melempar barang-barang ke lapangan.

Kerusuhan kemudian pecah di luar stadion yang menimbulkan perusakan fasilitas publik dan sejumlah kendaraan, demikian dilaporkan media massa lokal. Suratkabar The Malay Mail menyatakan polisi menangkap 25 suporter menyusul kejadian itu.

“Kami akan menangkap orang lebih banyak lagi setelah kami menyaksikan rekaman video kejadian itu,” kata Kepala Polisi Distrik Terengganu, ACP Idris Abdul Rafar.

Menteri Pemuda dan Olahraga Khairy Jamaluddin meminta Football Association of Malaysia (FAM) atau Persatuan Sepak Bola Malaysia mengambil tindakan segera. “Saya tegaskan bahwa kerusuhan tidak dapat diterima. Mereka yang bertanggung jawab atas kejadian ini tidak dapat beralasan keputusam wasit sebagai penyebab kejadian itu,” demikian dikutip sejumlah suratkabar, Senin, 18 Mei 2015.

Surat kabar Singapura Straits Times memberitakan tim Lions XII tertahan di dalam stadion selama lima jam karena kekerasan itu. Dua bus pendukungnya juga dirusak.

Terengganu, juara kompetisi itu pada 2011, mendesak FAM menyelidiki pembatalan gol pada menit akhir babak kedua itu. “Kalau FAM tidak menyelidiki hal itu, saya tidak ragu-ragu untuk menanyakan pada tim agar tidak mengikuti turnamen yang akan datang. Hal ini untuk membuktikan bahwa pemain kami tidak dalam posisi offside (sebelum mencetak gol),” kata Kepala Menteri Terengganu Ahmad Razif Abdul Rahman kepada The Star.